Toyota Classic Concert 2016

tcc-940x470

   Tepat di 45 tahun eksitensinya, Toyota Indonesia menggelar satu pentas musik klasik dengan penampilan bintang dunia penyanyi opera dan simponi orkesta ternama serta bintang dalam negeri di acara Toytoa Classics COncert 2016.

  Selain untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap karya seni musik bangsa yang dapat menggerakkan kehidupan, konser ini juga memiliki tujian yang bertepatan dengan momen penyelenggaraan program Toyota Eco Youth yang ke-11.

  Toyota sendiri berkomitmen untuk terus menumbuh dan mengembangkan bakat-bakat generasi penerus bersama Indonesia, melalui berbagai kegiatan tanggung jawab sosial, misalnya saja pendidikan, keselamata, berkendara, dan pengembangan masyarakat.

  Acara Toyota Classics Concert ini di adakan di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta pada tanggal 29 Oktober 2016. Yang mana seluruh hasil penjualan tiket akan di donasikan untuk mendukung program dan peningkatan infrastruktur fasilitas di 9 sekolah pemenang Toyota Eco Youth.

  Toyota Classics Concert 2016 ini akan di isi dengan lagu Indonesia Raya Oleh Local Cjoir & Orchestra dan turut menggundang artis terkenal Indonesia, Isyana Sarasvati.

  Jika anda tidak ingin membuat atau melewatkan konser megah ini, berikut beberapa tips saat anda melihat Toyota Classics Concert :

Elektronik

  Mohon matikan semua jenis perangkat elektronik Anda sebelum pertunjukan dimulai. Hal ini akan mencegah adanya gangguan terhadap para pemain dan ketidaknyamanan bagi penonton lainnya yang mencoba untuk menikmati pertunjukan.

Panggilan tirai

  Pada akhir program, konduktor dan solois biasanya kembali ke panggung beberapa kali, sementara penonton terus menunjukkan apresiasi mereka dengan bertepuk tangan. Jika penonton bertepuk tangan sangat antusias, orkestra dapat semangat pada saat pertunjukan.

  Jangan sampai anda melewatkan acara megah ini, Untuk reservasi tiket, anda dapat mengunjungi http://www.kiostix.com

Pengertian Pendidikan Bilingual Tujuan Model dan Hubungan Antara Self-Efficcy Dengan Komitmen Guru Sekolah Bilingual

Pengertian Pendidikan Bilingual Tujuan Model dan Hubungan Antara Self-Efficcy Dengan Komitmen Guru Sekolah Bilingual
Pendidikan bilingual melibatkan pengajaran pada semua subjek dalam dua bahasa yang berbeda (Wikipedia, 2005). Pendidikan bilingual adalah sebuah penambahan program bilingual dan bicultural dalam waktu lama secara konsisten, menggunakan dua bahasa dalam instruksi, belajar, dan komunikasi, dengan jumlah siswa yang seimbang dari kelompok kedua bahasa tersebut, yang diintegrasikan pada seluruh atau setidaknya setengah dari hari sekolah tersebut untuk memenuhi kompetensi bilingual, bilateral, akademik, dan lintas budaya (Soltero, 2004).

Tujuan pendidikan bilingual

Pendidikan bilingual memiliki tiga dimensi, yaitu bahasa, akademik, dan sosial budaya (Christian & Lindholm, dalam Soltero, 2002). Kemudian sesuai dengan dimensi tersebut, disusun empat tujuan dari pendidikan bilingual, yaitu perkembangan bahasa pokok (first language), perkembangan bahasa tambahan (second language), hasil akademik, dan kompetensi multikutural.
Penggunaan dua bahasa harus meliputi empat bagian dalam bahasa, yaitu mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Hal ini karena program bilingual yang efektif juga bertujuan untuk meningkatkan patokan belajar bagi siswa. Semua siswa memiliki harapan untuk memiliki prestasi akademik pada atau di atas patokan di kedua bagian bahasa tersebut.
Pada akhirnya pendidikan bilingual bertujuan untuk mengembangkan perspektif positif siswa terhadap lintas budaya, bakat intersosial, dan self-concept yang sehat (Cazahon, dalam Soltero, 2000).

Model pendidikan bilingual

 Adapun model-model umum dari sekolah bilingual (Wikipedia, 2005) adalah sebagai berikut :
a.       Pendidikan bilingual peralihan (Transitional bilingual education)
Pada model pendidikan ini siswa dibantu untuk melakukan transisi dari bahasa asli ke bahasa asing (Inggris). Tujuan dari pendidikan ini adalah membantu siswa agar tidak mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran yang disampaikan dalam bahasa Inggris.
b.      Pendidikan bilingual dua bahasa (Two-way or dual language bilingual education)
Pendidikan ini disusun untuk membantu anak yang bahasa ibunya bukan Inggris dan anak yang bahasa ibunya Inggris untuk menjadi bilingual dan biliterate. Idealnya dalam satu kelas model pendidikan ini terdiri dari masing-masing setengah dari kedua bahasa tersebut. Model ini merupakan model pendidikan bilingual yang paling berhasil karena guru tetap mengerti ketika siswanya berbicara dalam bahasa asli mereka dan kemudian guru bisa membalasnya dengan bahasa Inggris.
c.  Pendidikan bilingual late-exit (Developmental bilingual education)
Pada model ini pendidikan bahasa asing hanya menjadi tambahan. Tujuan pendidikan ini adalah untuk mengembangkan bilingual dan biliterate dalam dua bahasa. Program pendidikan ini tersedia untuk siswa yang bahasa ibunya bukan Inggris dan juga untuk program transisi.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga model pendidikan bilingual, yaitu pendidikan bilingual peralihan, pendidikan bilingual dua bahasa, dan pendidikan bilingual late-exit.

Hubungan Antara Self-Efficcy Dengan Komitmen Guru Sekolah Bilingual

Louis (1998, dalam Joffres & Haughey, 2001) dan Coladarci (1992, dalam effros & Haughey, 2001) menyatakan bahwa self-efficacy guru secara langsung mempengaruhi komitmen guru. Bandura (1997, dalam Joffres & Haughey,2001) menyatakan bahwa self-efficacy guru menunjukkan kepercayaan guru akan kemampuan personalnya untuk mempengaruhi cara belajar siswa. Kemudian Ebmeier dan Nicklaus (dalam Teacher Commitment and Engagemant, 2007) bahwa komitmen guru merupakan bagian dari afeksi atau reaksi emosi seorang guru kepada pengalaman mereka di dalam lingkungan sekolah.
Self-efficacy guru merupakan pendorong bagi siswa yang akan terlihat dari prestasi yang diterima siswa dan juga akan memengaruhi motivasi siswa dalam belajar (Pajares, dalam Pintrich, 2002). Self-efficacy guru merupakan prediktor yang signifikan bagi prestasi siswa. Self-efficacy guru akan meningkat ketika siswanya menunjukkan peningkatan dalam pelajaran. (Tschannen-Moran, Woolfolk Hoy, & Hoy, dalam Pintrich, 2002).
Rotter, dkk (1966, dalam Joffres & Haughey, 2001) menyimpulkan bahwa self-efficacy guru tumbuh dalam dua bentuk kepercayaan, yaitu kepercayaan mengenai kemampuan personal dalam mempengaruhi proses belajar siswa dan kepercayaan mengenai kemampuan guru (sebagai kelompok) untuk mempengaruhi cara belajar siswa secara keseluruhan. Self-efficacy guru akan menambah keefektifan guru dalam mengajar (Tschannen-Moran, Woolfolk Hoy, & Hoy, 1998, dalam Knobloch & Whittington, 2003), prestasi siswa (Armor, dkk, 1976, dalam Knobloch & Whittington, 2003), komitmen profesional (Coladarci, 1992, dalam Knobloch & Whittington, 2003), dan usia karir (Burley et al., 1991, dalam Knobloch & Whittington, 2003).
Self-efficacy guru yang rendah merupakan hal yang menentukan dalam penurunan komitmen guru (Joffres & Haughey, 2001). Reyes dan Coladarci (1992, dalam Joffres & Haughey, 2001) menemukan bahwa self-efficacy berhubungan dengan komitmen guru di sekolah, baik itu komitmen guru terhadap organisasi, maupun komitmen guru dengan profesinya. Hal ini bergantung pada pengertian guru tentang situasinya, dimana dirinya dipengaruhi oleh sejarah kerjanya dan kehadiran teman atau rekan sejawat dalam pekerjaannya.
Komitmen guru dalam mengajar memegang peranan penting dalam menentukan seberapa lama guru bisa bertahan pada profesinya (Chapman, 1982; Chapman & Lowther, 1983; McCracken & Etuk, 1986, dalam Knobloch & Whittington, 2003). Seorang guru yang memilih karir mereka berdasarkan motivasi intrinsik untuk melayani orang lain atau tujuan karir jangka panjang biasanya menunjukkan self-efficacy yang lebih tinggi dalam kegiatan mengajar mereka (Knobloch & Whittington, 2003).
Komitmen guru mengalami berubahan dan pengurangan ketika guru merasa tidak sukses, dimana ketika mereka merasa self-efficacy yang dimilikinya rendah. Perasaan tersebut mendukung berkembangnya ketidakmampuan guru untuk memengaruhi proses belajar siswa, untuk menghidupkan perasaan mereka akan misi dan standar internal profesional, untuk melanjutkan belajar dan tumbuh, dan untuk berprestasi mencapai tujuan (Joffres & Haughey, 2001).
Pergerakan naik dan turunnya komitmen guru terlihat dari pengertian guru akan pengalaman negatif mereka. Komitmen menurun dalam fungsi atribusi kausal guru dari penerimaan akan kegagalan ketika guru mengatribusikan ketidakmampuan mereka untuk memengaruhi proses belajar siswa (Joffres & Haughey, 2001). Joffres & Haughey (2001) menemukan bahwa kesesuaian, dukungan, dan kerja sama cenderung akan memudahkan timbulnya komitmen.
Menurut Tschannen-Moran, Woolfolk Hoy, dan Hoy (dalam Pintrinch, 2002) self-efficacy guru akan meningkat ketika siswanya menunjukkan peningkatan dalam pelajaran. Kemudian hasil yang dicapai siswa di sekolah dipengaruhi juga oleh komitmen guru di sekolah tersebut. Hal ini sesuai dengan dengan pendapat Firestone, dkk (dalam Teacher Commitment and Engagemant, 2007) yang menyatakan bahwa komitmen seorang guru berdampak pada penampilan kerjanya, jumlah kehadiran, burnout dan turnover, yang juga berpengaruh terhadap prestasi siswa, serta perilaku siswa di sekolah. Huberman dan Nias (dalam Teacher Commitment and Engagemant, 2007) berpendapat bahwa komitmen guru merupakan salah satu faktor penting yang menentukan dalam kesuksesan dan kelangsungan pendidikan di masa depan.
Knobloch dan Whittington (2003) dalam penelitiannya menemukan bahwa komitmen seorang guru merupakan sumber dari self-efficacy dirinya dalam mengajar, dimana hal ini berhubungan dengan harapan dari efikasinya akan keberhasilannya dalam mengajar. Pajares (dalam Henson, 2001) menyatakan bahwa self-efficacy mempengaruhi pilihan, usaha, dan ketahanan individu ketika berhadapan dengan masalah, serta mempengaruhi emosi individu juga.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti berasumsi bahwa self-efficacy guru dan komitmen guru memiliki hubungan yang positif. Artinya semakin tinggi self-efficacy yang dimiliki seorang guru ketika mengajar, maka semakin tinggi komitmen guru tersebut.

6 Alasan Untuk Memilih Melanjutkan Pendidikan Dan Berhenti Kerja

6 Alasan Untuk Memilih Melanjutkan Pendidikan Dan Berhenti Kerja

Merintis karir adalah salah satu hal yang banyak dipikirkan orang modern saat ini. Karena hidup tak hanya melulu suka-suka, namun juga harus dibarengi dengan usaha. Tapi, hidup ini juga tak harus bekerja terus lho, Ladies.

Bagi Anda yang ingin mengekspansi jalan karir yang Anda miliki, ada baiknya untuk melanjutkan pendidikan terakhir Anda. Mengapa tidak? Ada beberapa alasan yang masuk akal untuk Anda pertimbangkan.

Potensi Dipromosikan

Mereka yang melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi dan sudah memiliki pengalaman kerja, akan lebih berpeluang mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dengan promosi jabatan yang lebih terjamin. Hal ini karena untuk posisi tertentu, selain dibutuhkan pengalaman, juga kerap dibutuhkan level pendidikan yang lebih tinggi.

Pindah Kerja

Dengan melanjutkan pendidikan, Anda punya waktu untuk memikirkan job apa yang Anda inginkan di masa depan. Selain itu, Anda juga bisa berkesempatan mencoba pengalaman di tempat lain dari tempat Anda bekerja sekarang.

Penghasilan Lebih Tinggi

Mereka yang memiliki level pendidikan lebih tinggi, berkesempatan mendapatkan promosi kenaikan gaji. Tentunya dengan menyelesaikan studi dan menjalani masa kerja dengan sebaik-baiknya.

Menjadi Contoh Bagi Anak-Anak

Apabila Anda sudah memiliki anak, sekolah lagi juga bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi anak-anak Anda. Pasalnya Anda juga jadi lebih bisa ikut membangun semangat bersama mereka bahwa sekolah itu bisa menjadi kesempatan yang bermanfaat bagi masa depan.

Pengalaman Dan teman Baru

Anda akan mendapatkan banyak pengalaman dan teman baru tentunya. Selain itu, Anda bisa meningkatkan jaringan pergaulan dan sosial. Dengan demikian Anda telah melebarkan sayap dan membangun relasi yang bisa memudahkan karir di masa depan.

Menantang Diri Anda

Anda tak akan pernah terlalu tua atau terlalu lelah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Karena sampai kapanpun, ilmu itu akan bermanfaat bagi Anda. Jadi, siapkan diri Anda untuk berbagai pengalaman dan pelajaran baru.

Kalau Anda ingin karir yang lebih cemerlang, tak ada salahnya menempuh jalur akademis lagi. Dengan demikian Anda membuka sendiri peluang untuk naik ke level yang lebih tinggi.

Enam Perguruan Tinggi Adakan Pendidikan Jarak Jauh

Enam Perguruan Tinggi Adakan Pendidikan Jarak Jauh

Staf Ahli Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Paulina Panen mengungkapkan, Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) sudah dilakukan beberapa universitas di Indonesia.
Menurutnya, enam Perguruan Tinggi (PT) sudah menjalankan PJJ selama satu semester ini.
“Selain Universitas Terbuka (UT), kini sudah ada enam PT yang melakukan PJJ,” ujar Paulina di Jakarta.
Paulin menerangkan, enam PT tersebut, yaitu Universitas Binus, Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM), Institut Teknologi Surabaya (ITS), Institut Teknologi Bandung (ITB) dan AMIKOM Yogyakarta.
Ia menegaskan, enam PT ini sudah mendapat izin membuka Program Studi (Prodi) PJJ.  Bahkan, kata dia, mereka sudah membagi mata kuliah melalui Pembelajaran Daring Indonesia Terbuka dan Terpadu (PDITT) selama satu semester ini.
Menurut Paulina, sejauh ini sudah ada 3,000-an yang mengikuti. Menurutnya, mereka mendapatkan pembelajaran 30 mata kuliah (matkul) dari enam PT tersebut. Mereka berasal dari 51 PT di seluruh Indonesia.
“Jadi enam PT itu provider dan 51 itu user-nya,” jelasnya.
Dengan adanya konsep ini, Paulina menegaskan PT-PT lain termasuk mahasiswa akan mendapatkan manfaat yang besar. Menurutnya, PT lain yang kekurangan dosen atau tidak memiliki matkul tertentu, dan sedang mencari bahan bisa mempeorleh keuntungan. Mereka, tegasnya, bisa mendapatkan semua itu di PDITT e-learning ini.
Sebelumnya, Paulina mengaku sudah ada Universitas Terbuka (UT) yang sudah menjalani PJJ ini. Menurutnya, PT ini sudah menjalankannya hampir 31 tahun. Mereka sudah melayani beratus-ratus ribu mahasiswa dengan konsep PJJ.

SISTEM PENDIDIKAN JARAK JAUH

SISTEM PENDIDIKAN JARAK JAUH

Sistem pendidikan jarak jauh pada awalnya berbentuk pendidikan koresponden yang mulai dikenal sekitar tahun 1720- an sebagai suatu bentuk pendidikan orang dewasa.  Proses pembelajarannya menggunakan bahan cetak yang dikenal dengan self-instruksional texts dan dikombinasikan dengan komunikasi tertulis antara pengajar dan siswa.  Dalam perkembangannya istilah pendidikan koresponden dianggap terlalu sempit.  Kemudian muncul istilah independent study (belajar mandiri), home study(belajar di rumah) dan external study (belajar di luar sekolah).  Baru pada tahun 1970-an, bersamaan  dengan berdirinya Open University di Inggris, istilah pendidikan jarak jauh menjadi populer dan penggunaannya mencakup pendidikan korespondensi,independent study, home study dan external study.

Selama empat dasa warsa terakhir, istilah pendidikan jarak jauh yang berasal dari bahasa Inggris distance education, digunakan untuk menjelaskan beragam pendekatan proses belajar mengajar seperti, home study, correspondent education,  tele-education, open learning, dan external studies.   Sistem pendidikan jarak jauh mempunyai dua komponen yaitu sistem belajar jarak jauh (distance learning) dan sistem pembelajaran jarak jauh (teaching learning) (Keegan, 1990).  Sistem belajar jarak jauh memberikan penekanan kepada siswa dan proses belajar (learner centered), sedangkan sistem pembelajaran jarak jauh lebih berfokus pada proses belajar, organisasi pengajaran, serta pengajarnya (teacher and system centered).  Sementara itu,  sistem pendidikan jarak jauh berfokus pada kedua sisi secara utuh, baik kepada siswa dan proses belajarnya maupun pada proses pengajaran, sistem organisasi, dan pengajarnya.

Sistem Pendidikan Jarak Jauh

Tahun 1980 Keegan memberikan definisi sistem pendidikan jarak jauh berdasarkan analisisnya terhadap beragam definisi dan tradisi praksis.  Menurut Keegan. System pendidikan jarak jauh memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Terpisahnya siswa dan pengajar yang membedakan pendidikan jarak jauh dengan pengajaran tatap muka.
  2. Ada pengaruh dari suatu organisasi pendidikan yang membedakannya dengan belajar sendiri  di rumah (home study).
  3. Penggunaan beragam media—cetak, audio, video, computer, atau multi media—untuk mempersatukan antara siswa dan pengajar dalam suatu interaksi pembelajaran.
  4. Penyediaan komunikasi dua arah sehingga siswa dapat mengambil manfaat darinya dan bahkan mengambil inisiatif untuk dialog.
  5. Kemungkinan pertemuan sekali-sekali untuk keperluan pembelajaran dan sosialisasi (pembelajaran diarahkan kepada individu, bukan kepada kelompok).
  6. Proses pembelajaran yang memilik bentuk hamper sama dengan proses industri.

Batasan tersebut, meskipun masih terasa terlalu luas, pada masanya telah dapat membantu menjelaskan suatu sistem pendidikan yang berbeda (dari sistem pendidikan lainnya dan konvensional) dan kompleks.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa sistem pendidikan jarak jauh didasarkan pada keterpisahan antara siswa dan pengajar dalam ruang dan waktu, pemanfaatan (paket) bahan ajar yang dirancang dan diproduksi secara sistematis, adanya komunikasi tidak terus-menerus  (non-contiguous) antara siswa dengan siswa, tutor, dan organisasi pendidikan melalui beragam media serta adanya penyeliaan dan pemantauan  yang intensif dari organisasi pendidikan.  Implisist dalam pengertian tersebut adalah kemandirian siswa dalam mengelola proses belajarnya melalui pemanfaatan beragam layanan, baik yang disediakan oleh organisasi pendidikan maupun yang tersedia di lingkungan sekitarnya, serta adanya proses perencanaan yang dilakukan secara sistematis oleh suatu organisasi pendidikan.  Dari beragam definisi dan gambaran tentang sistem pendidikan jarak jauh, terlihat bahwa sistem pendidikan jarak jauh sangat potensial tidak hanya untuk pemenuhan kebutuhan belajar mandiri (individual and independent learning), namun juga untuk upaya pemerataan pendidikan dalam bentuk pendidikan massal (mass education), terutama di negara-negara berkembang seperti Indonesia yang sangat memerlukan percepatan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk pembangunan.

Understand the Factors that create the initial Cabin Designs of Casino sites

Understand the Factors that create the initial Cabin Designs of Casino sites

Finest Design Configurations for ones World-Class Gambling

Difficult some sort of “golden rules” of producing each decorations of the eminent gambling establishments. These are deficiency of lamps furthermore stained amount of light to produce guests stay put any longer whilst keeping game playing. A huge excellent gambling establishment negotiator, Bill Friedman, was like betting. Genuinely, this person has been working for that School regarding The state of nevada and have become some sort of instructor related with casino site admin therefore. Mister. Friedman saw a collection policies which were should be unchangeable, similar to that of essential real truth in the realm of gambling. A number of the most items: Gambling gym equipment needs to ne taken near the entry ways (it is far better than just unoccupied hall alternatively receiving).http://earthworkstransit.org/discover-the-typical-casino-bonuses The home will probably consist of a network framework (might be looked into much better huge aisles but also passageways). There really should be competitive ceilings wearing a wagering establishment (in height roofs ordinarily are not thought to make your really romantic situation). Instead of most astonishing causes put to use for home decor the house, playing methods got to be always personalize the inside of an online casino.

Purely New Concept amongst Casino’s Within

Correct, around the other hand, experienced imaginative allow us the opposite algorithm in response to currently the audiences’ personal taste who traded extensively within the last 10 years. Read more

Cool and various Models to achieve Online casinos Games

Cool and various Models to achieve Online casinos Games

Each of Pair of the best Slots` Themes

As the battler involves your life amoung risk, adventures, fantasies, stimulation, satisfaction and as well awesome. Ones games should on hand a trustworthy pane to another location realism, creates a possible opportunity to be considered a good guy, one investigator, a fabulous pirate potentially a characteristics with your well liked mythic potentially film. This particular is achievable resulting from a large number of popular and various models software system expertise got with their slot technology.http://buzzenet.blog-idrac.com/2016/11/29/gambling-tips-for-land-based-and-online-casinos/ Our business has gotten ready for the list of the regular and fascinating concepts of online holes. You will play not only to keep things interesting quite a few incredibly good pertinent rewards yet on to dive to some many the facts of high your selected stars.

We’re partition all the slots instantly into subsequent variants among the engineering web themes and so articles may possibly be revealing to: – Animal slot machines. Most are unified simply because of the concept linked with relaxed creatures: gorillas, lions, lions, crocodiles together with friendly characters would certainly nightmare to help you be successful with some coinage. – Aztek slot machine. This kind of early lately driven large numbers of software applications corporations. – Asian but also Arabian slot machine games. Eastern medicine and as a result Arabian land will be jam-choked with secrets on top of that reduction secrets. – Campaign pai gow poker. Read more

1 2 3 326